BUMI MALANG MIG33

www.bumimalang.tk
Photobucket
e-book Usaha Toko Sembako
SELAMAT DATANG DI BUMI MALANG SATU BUMI UNTUK MALANG by hagemaru_j
e-book Usaha Toko Sembako hagemaru_j




Jumat, 23 Desember 2011

Malam Pertama Rani


Kau pandangi dirimu di depan cermin. Kau dapati sebuah wajah tirus yang dipadukan dengan mata besar, bibir tipis, dan hidung mancung. Kau temukan rambut hitam, tebal, dan panjang hingga menutupi kontur di dadamu. Kau tahu ada tali lingerie (pakaian dalam) berwarna merah jambu menggantung di pundak putihmu. Namun kau gamang.
Perlahan-lahan kau ambil bedak, kau rias dirimu yang sebenarnya sudah cantik. Kau ambil sisir, kau sisir rambutmu yang sebenarnya sudah lurus. Kau hanya gelisah. Dari mata bulatmu seakan-akan kau melihat kembali kejadian-kejadian itu. Bersama Dion, Angga, Ryan, dan mantan kekasihmu yang lain. Kau tak percaya, bahwa suamimu nanti hanya akan menerima “sisa” dari mereka. Bahwa keperawananmu telah diculik oleh mereka. Bahwa kau dulu justru senang dan tak memikirkan akibatnya. Sekarang kau galau.
Harus berbicara apa pada suamimu? Harus beralasan apa padanya? Kau berpikir. Apa sebaiknya kau tunda saja malam pertamamu kali ini? Apa sebaiknya kau operasi selaput dara saja agar kembali perawan? Ah, tapi kenapa tidak dari dulu kau lakukan itu? Kenapa baru sekarang? Apa suamimu tidak marah kalau kau menolak ajakan malam pertamanya? Apa kau tidak kasihan pada suamimu yang telah bermimpi mencumbui istrinya tapi malah diacuhkan? Pertanyaan dari dalam dirimu sendiri membombardir.
Dan kau gamang, kau gelisah, kau galau.
Perlahan kau minum teh di atas meja agar pikiranmu rileks. Suamimu masih mandi. Kau hanya punya waktu sekitar 10 menit untuk memikirkan solusi terbaik. Tapi kau malah teringat kenakalanmu dulu. Bersama mantan kekasihmu. Tak ada yang menyangka, Rani anak Pak Lurah yang kuliah di kota, pintar, santun, ramah pada tetangga, sesungguhnya adalah gadis liar. Pergaulanmulah yang mengubah dirimu menjadi seperti itu. Kau berpetualang cinta sana-sini, menyerahkan keperawanan tanpa kau sadari. Setelah kembali ke desa, kau putus dengan pacar-pacarmu. Kau malah menjadi perawan tua yang tak laku-laku. Bukannya tidak laku, tapi karena kau terlalu takut rahasiamu terbongkar, bahwa kau tidak lagi perawan. Usiamu sudah 29 tahun saat suamimu datang melamarmu. Usia yang terlalu tua untuk anak Pak Lurah yang cantik.
Ceklik-ceklik.
Pintu kamar mandi telah terbuka. Suamimu keluar dengan handuk di kepalanya. Kau gemetar, apalagi setelah melihat senyum manisnya yang dia tawarkan padamu. Kau menciut, menggenggam sisir erat-erat. Malam ini adalah malam yang indah, kau sedang bersama suami, bukan bersama monster, Ran. Kenapa kau ketakutan begitu?
“Kita nonton film dulu ya Dik, Mas punya film banyak. Kamu mau film apa? Horor, action, atau yang romantis?” Suamimu terlihat bahagia, binar matanya begitu memesona. Tangannya bergerilya ke rambut lembutmu yang baru saja kau sisir, membuat jantungmu berdesir-desir. Tapi kau lega, untung suamimu mengajak nonton film dan tidak langsung mengajak bercinta.
“Action aja deh Mas...” Kau beralibi, film horor dan romantis kan sama-sama membuat lebih dekat dengan pasangan. Maka kau pilih film action yang menegangkan supaya konsentrasi ke film tidak mengarah ke yang lain. Sebenarnya kau gamang.
Dengan senyum ceria suamimu membuka laptop dan memutar film lawas, Mr And Mrs Smith. Ah, suamimu yang seorang sarjana hukum itu ternyata lebih pintar darimu. Siapa bilang film action tak ada sisi romantisnya? Kau salah.
Dan akhirnya kau gelisah. Matamu memang tertuju pada layar laptop, tapi pikiranmu tak henti-hentinya berpetualang, masih mencari alasan yang tepat untuk menyembunyikan ketidakperawananmu. Kau sangat bingung, gelisah sendiri, tak tenang, padahal suamimu dengan santainya berbaring sambil melihat film favoritnya. Sekali-kali tangannya memegang pundakmu, membelai rambutmu, atau menggenggam mesra tanganmu. Justru perlakuan-perlakuan itu yang membuatmu dilanda cemas akut, takut suamimu meminta bercinta secara tiba-tiba. Kau super galau, capek galau, dan puncaknya tanpa kau sadari kegalauanmu malam itu malah mengantarkanmu pada kenyamanan tidur di pundak suamimu.
*****
“Maaf Mas, tadi malam...” Ragu-ragu kau memutar kejadian semalam, saat kau tiba-tiba ketiduran. Padahal sebenarnya kau bersyukur luar biasa karena kau masih bisa menyembunyikan ketidakperawananmu untuk sementara waktu.
“Iya enggak apa-apa Dik. Aku tahu kamu pasti kecapaian setelah pesta pernikahan kita kemarin. Aku juga enggak minta kok tadi malam, makanya aku sengaja memutar film. Aku enggak maksa kamu buat melakukannya sekarang Dik, aku tunggu sampai kamu benar-benar siap.”
Suamimu tersenyum, lalu dia menyeruput teh manis yang baru saja selesai kau aduk. Matanya berbinar, benar-benar tak ada sejumput kekecewaan pun di wajahnya. Semua terlihat begitu apa adanya. Dan kau membalas dengan senyuman, yang sedikit parau. Kau tak bisa mengartikannya, kau tak bisa menyadari betapa kau mendapat suami sebaik dan setulus dia. Tak pernah kau menyangkanya. Sepertinya pepatah “laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan baik, dan sebaliknya” itu tak berlaku bagimu. Dia laki-laki baik, sedangkan kau? Wanita bejat, setidaknya dirimu sendiri yang menyebut begitu.
“Hati-hati di jalan, ya Mas.” Akhirnya senyummu bisa sedikit lepas, setelah melepas suamimu di depan pintu sembari mencium punggung tangannya.
*****
Hari berganti hari, tak terasa satu bulan sudah usia perkawinanmu. Walaupun kalian berdua belum bercinta sama sekali, tapi suamimu tak pernah mengeluh. Wajahnya selalu ceria, sumringah. Bahkan ketika pulang malam, sehabis lembur di kantor, dia selalu terlihat bahagia. Tak ada keluh kesah sedikit pun yang kentara.
Lama-lama kau malah curiga. Jangan-jangan suamimu tidak normal? Kenapa dia terlalu sabar? Padahal dia sudah berusia 32 tahun, usia yang sangat matang, usia yang terlampau lama untuk menunggu “sesuatu itu”.
Kau gamang, bertanya dan menerka-nerka pada pikiranmu sendiri. Tiba-tiba muncul keinginanmu untuk memancingnya nanti malam. Ah, memancingnya? Kau tak takut ketidakperawananmu terungkap? Hanya sekadar memancing, nanti kalau dia minta bilang saja belum siap, begitu kilahmu.
Dan benar saja. Malam harinya, kau terlihat begitu anggun, dengan lingerie ungu yang menyingkap putih pahamu. Kau kuncir rambutmu ke atas, mempertontonkan leher jenjangmu yang aduhai. Kau putar musik romantis dari dalam kamar, sementara kau di dapur mempersiapkan makan malam.
“Assalamualaikum...” Suamimu telah datang rupanya. Kau menjawab, mencium tangannya, kemudian membawakan tasnya. Suamimu terpancing juga rupanya dengan penampilanmu malam ini.
“Tumben Dik?” Matanya mengarah ke lingerie-mu.
“Kepanasan aja Mas. Akhir-akhir ini cuaca kan panas banget, enggak tahan...” Kau berpura-pura. “Oh ya Mas, makan malam sudah siap, air panas juga sudah siap.” Kau tersenyum manis, tapi kali ini tidak berpura-pura.
“Maaf ya Dik, tadi aku ada meeting, sekalian makan gitu. Enggak apa-apa kan? Aku mau langsung tidur Dik, besok ada sidang. Maaf ya...” Dia menggenggam tanganmu, lalu masuk ke dalam kamar.
Dan kau? Rontok, hatimu benar-benar rontok. Kau lari ke kamar mandi, air matamu tumpah. Entah mengapa, ada sesuatu perasaan aneh yang merasuk dalam kalbumu, yang membuatmu cemas. Kau telah jatuh cinta pada suamimu, hal yang baru kau sadari.

Malam-malam selanjutnya terlewati sama tak menyenangkannya. Entah, suamimu tiba-tiba saja berubah. Kau berpikir, memilah-milah beberapa kemungkinan. Pertama, suamimu tidak normal. Kedua, malah mungkin dia punya simpanan. Ketiga, memang ini balasan untukmu. Balasan? Ya, balasan untuk kelakuanmu selama ini, bayaran untuk ketidakperawananmu. 

Ah, lagi-lagi, kau gamang, gelisah, dan galau. Sudah dua bulan sekarang, perkawinan kalian makin terasa hambar. Kau semakin merasa tak berguna sebagai istri dan wanita. Minta cerai? Apa guna? Masih laku? Tiba-tiba saja kau berpikir untuk mengakhiri hidupmu sendiri. Ya, itu pilihan yang paling tepat. Daripada hidup tak berguna sebagai istri, bercerai pun hanya akan menambah beban Umi dan Abi. Maka mati rasanya lebih terhormat, tak ada yang mengetahui kalau kau tak perawan. Bukannya itu jauh lebih baik?
Maka dengan ketipisan iman dan kegalauan murahan kau tenggak racun serangga. Kau tewas seketika. Di waktu yang sama, di sudut lain di sebuah pub, suamimu sedang menenggak minuman memabukkan bersama beberapa wanita. Ternyata kemungkinan kedua benar, suamimu punya simpanan. Dan sepertinya hal itu berhubungan dengan kemungkinan ketiga, itulah balasan untukmu. Tapi kau terlalu cepat mengambil keputusan, Ran. Pepatah itu benar, wanita buruk mendapatkan lelaki buruk pula. Harusnya kau menyadari hal itu sebelum kau tenggak racun mematikan itu. Tapi apa daya sekarang kau sedang melewati malam pertamamu di alam baka. 


Oleh: Haniah Nurlaili

0 komentar:

BUMI MALANG MIG33 COMUNITY

Pengikut

About This Blog

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP