BUMI MALANG MIG33

www.bumimalang.tk
Photobucket
e-book Usaha Toko Sembako
SELAMAT DATANG DI BUMI MALANG SATU BUMI UNTUK MALANG by hagemaru_j
e-book Usaha Toko Sembako hagemaru_j




Minggu, 23 Oktober 2011

Abu Nawas

Siapa sih yang tak kenal abu nawas, kisahnya yang melegenda dan pemikiran pemikirannya yang melebihi nalar orang pada jamannya ditambah bumbu-bumbu kocak didalamnya.
13193346371670288923
kali ini saya akan menceritakan salah satu kisahnya yang waktu itu saya dapat dari cerita guru SMP saya dan tentu saja ada sedikit modivikasi dari saya karena hanya ingat inti ceritanya, maklum udah lama sekali namun tak merubah pesan yang terkandung dalam kisah tersebut.
Dahulu kala, perdana mentri yang angkuh lagi sombong memiliki peternakan unta namun saat membuang limbah kotoran unta perdana mentri cuek tak mengiraukan tetangga-tetangganya yang dikalangan rakyat jelata, limbah kotoran unta itu banyak masuk ke rumah-rumah mereka
karena tidak berani mengadu kepada sang raja, para tetangga perdana mentri pun mengadukan keluh kesah mereka kepada Abu Nawas..
setelah mendengar keluh kesah mereka abu nawas pun berpikir dan kemudian mengatakan “besok sampah rumah tangga kalian jangan dibuang, kumpulin selama satu minggu setelah itu bawa ke saya setelah shubuh sebelum matahari terbit”.
para tetangga perdana mentri pun bertanya serempak “buat apa abu?”
abu nawas pun menjawab “udah ngak usah banyak cing cau lau turutin saja apa kataku”.
pulanglah para tetangga perdana mentri kerumah masing masing.
hari berganti hari dan hari yang ditunggu lagi dinanti pun tiba yaitu hari ke-7.
pagi hari yang sejuk Abu Nawas dikagetkan dengan 10 grobak besar yang setiap gerobaknya sepadan dengan satu truk besarnya namun isinya sampah yang baunya minta ampun, kemudian Abu Nawas ingat apa yang diperintahkan pada orang orang yang mengadu kepadanya beberapa hari lalu.
“hai teman-temanku sekarang bawa semua sampah ini ke depan rumah perdana mentri dan buanglah sampah tersebut di tepat pintu masuk sampai pintu masuk tak kelihatan karena sampah, jangan tanya apa-apa apa ikuti saja perintahku jika ada orang yang bertanya bilang disuruh Abu Nawas” kata abu nawas kepada para tetangga perdana mentri
semua penghuni rumah perdana mentri dikejutkan dengan bau yang amat sangat menyengat yang datangnya dari depan rumah, alangkah terkejutnya mereka saat pintu dibuka gunung sampah pun terlihat, perdana mentri pun geram, sambil tangan kiri menutup hidungnya berkata “siapa yang melakukan tindakan kurang ajar ini, apa sudah tak sayang nyawanya dia.” para pembantu pun mengatakan ini ulah Abu Nawas.
karena lawannya adalah Abu Nawas perdana mentri pun tak mau bertindak sembarangan, bisa bisa dialah yang celaka jika ternyata bukan Abu Nawas atau Abu Nawas tapi tak mau mengakui perbuatannya.
mengadulah perdana mentri pada baginda raja Raja Harun Ar Rasyid, mendengar aduan dari perdana mentri sang raja pun mengutus prajurit untuk mengundang Abu Nawas menghadap sekarang juga.
Abu Nawas pun menghadap ke baginda Raja Harun Ar Rasyid
“ada apa gerangan wahai baginda raja memanggil saya kemari” kata Abu Nawas sambil menundukkan kepala
“saya dapat laporan dari perdana mentri bahwa kamu membuang sampah di depan rumah perdana mentri benarkah itu wahai Abu Nawas?”
“benar yang mulya” jawab Abu Nawas tanpa rasa takut sama sekali
mendengar pengakuan Abu Nawas sang perdana mentri merasa geram merah padam mukanya dan berkata “hukum Abu Nawas dengan perbuatan yang setimpal baginda”.
“saya melakukan ini karena perdana mentri membuang limbah ternaknya tidak mempedulikan tetangga disampingnya baginda raja” jawab Abu Nawas membela diri
“tapi kamu tak bisa se enak udelmu wahai Abu Nawas ini negara ada peraturannya” teriak perdana mentri dengan geram
“betul kata perdana mentri kamu tahu aku rajanya di negeri ini aku ulil amri di negeri ini apa kamu tak patuh lagi padaku wahai Abu Nawas” kata raja sambil memandang serius Abu Nawas
“ampun baginda, saya mengakui saya bersalah sebagai hukuman saya rela rumah saya di jadikan tempat buang hajat besar”
ketika Raja hendak berkata perdana menteri langsung menyerobot pembicaraan “saya setuju baginda asalkan yang buang hajat besar seluruh penghuni rumah saya”
“bagaimana Abu, apakah kamu setuju?” tanya Raja Harun Ar Rasyid pada Abu Nawas
“baiklah baginda saya ijinkan namun hanya buang hajat besar saja tak lain baginda” jawab Abu Nawas dengan menyembunyikan sejuta taktiknya
pada hari itu juga semua penghuni rumah perdana mentri dan pegawai pegawainya yang berjumlah puliluhan mendatangi rumah Abu Nawas untuk nge-ngek (buang hajat besar).
namun anehnya setiap orang yang buang hajat besar dijaga oleh 1 orang tetangga Abu Nawas sambil membawa sebilah pentungan. dan ketika para pegawai  perdana mentri menyalurkan hajatnya sepontan dipukullah oleh sang penjaga termasuk juga perdana mentri karena yang menjaga perdana mentri Abu Nawas sendiri.
dengan muka lebam lebam bekas pukulan perdana mentri mengadu pada sang Raja, dan di panggillah Abu Nawas menghadap lagi
“hai Abu Nawas, apa yang kamu lakukan, bukankan kamu setuju menjalani hukuman dengan rumahmu jadi tempat buang hajat besar?” tanya sang raja dengan sedikit emosi
“memang benar tuanku tapi saya hanya setuju untuk buang hajat besar tak mengatakan setuju buang hajat kecil”.
sang raja pun diam sejenak dan berpikir “oh y y mana mungkin e-ek tanpa pipis” baginda pun senyum sendiri ” ya sudah kamu pulang sana bersihkan rumahmu wahai Abu Nawas, dan untk kamu perdana menteri kamu atur pembuangan limbahmu jangan kau rugikan tetanggamu lagi”
Abu Nawas dan perdana menteri serentak berkata “baik baginda” walau sebenarnya perdana mentri masih dongkol oleh ulah Abu Nawas namun dia ak bisa berbuat banyak.

Read more...

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisahku Bagai Bumi, Cintaku Bagai Bulan, Ketulusanku Bagai Meteor

pada awalnya aku menggebu-nggebu seolah olah akulah pemilik dunia yang akan memberimu segalanya asalkan kau mau denganku, semua berjalan lancar sampai datanglah hantaman meteor yang datang dari langit.

sang kekasihku pun melihat meteor itu sebagai penghancur yang menyeramkan sementara aku melihatnya  sebaga bintang yang sungguh elok dipandang, sungguh dibutakan oleh kabut asmara diriku ini.

malam ini terasa gelap dan dingin, namun datangnya sang kekasih begitu terang bagai rembulan yang menghangatkan diriku. namun alangkah tak bersyukurnya aku bulan yang begitu besar indah dan terasa dekat aku masih melihat bintang yang jauhnya sampai tak dapat dijangkau.
semakin mendekatnya meteor pada bumi, kekasihku pun terkena serpihan batu kerikil dari meteor,  13191646731795929891menangislah kekasihku. sementara aku tak mampu berbuat apa apa untuk menghentikan tangisannya, sungguh kejam diriku.
siapakah meteor itu?
meteor itu sebelumnya batu jantungku yang selalu bersamaku dalam duka dan senang namun karena sesuatu hal ku lempar ke luar angkasa, dan kini meteor itu kembali dan mengingatkanku akan masa-masa kebersamaan kita dulu
jiwaku adalah jiwa bumi, bumi hanya memiliki satu bulan dalam hidupnya, aku tak rela jika bulan yang  mengintariku selalu menangis, aku tak rela bulan yang selalu menerangi malamku kecewa karena terus ku bohongi.
bulan aku harap kau menyadari aku akan sangat berdosa jika seolah olah aku memandangmu(bulan) ternyata aku memandang keindahan meteor, bulan ku harap kau mengerti aku yang selalu memperhatikanmu namun saat meteor tiba aku tak menganggapmu.Dan saat meteor tak terlihat oleh mataku aku kembali memandang keelokanmu.

sebelum semua itu terjadi, sebelum aku hanya memperlakukanmu sebagai cadangan semata. sebelum asap kebohongan demi kebohongan ku lakukan hingga ku tak mampu melihat ke indahanmu.
aku terpaksa meninggalkanmu dari orbitku, bukan karena meteor tapi karena bumi tidak ingin bulan menderita karena bumi. bumi cinta bulan tetapi bumi tak sanggup melihat bulan meneteskan air mata.
bumi tahu bulan sangat kecewa pada bumi, tapi tahukah bulan bahwa bumi ini tak pantas untukmu, bumi tiap hari di injak-injak manusia, bumi tempat hewan hewan buang kotoran bumi sudah kotor sementara bulan belum terjamah seorang makhluk pun.,

bumi tahu bulan selalu mengata ngatai bumi dengan ungkapan berbagai nama binatang, namun bumi selalu berdoa bahwa bulan akan mendapatkan planet baru yang lebih baik dari bumi.
bumi pun tak berharap bahwa meteor itu akan berevolusi jadi satelit (bulan) untuk bumi, namun bumi hanya berharap suatu saat menemukan satelit (bulan) yang benar benar bumi cintai dan yang selalu menemani bumi dalam mengintari orbitnya.

Dan untuk sementara aku menghilang dalam pandanganmu (bulan), aku malu jika memperlihatkan ke pecundanganku padamu. suatu saat aku harap kau bisa memahami perasaanku dan bisa mema’afkanku.

Read more...

Rabu, 19 Oktober 2011

Teman Yang Kuanggap Saudara Menghamiliku

“IyKa dok, saya sudah telat menstruasi 2 minggu.” Pengakuan gadis manis, yang wanita karir belum menikah, usia menjelang 30 an  yang keluhan sakitmaag membandel.
Dan menariknya, dia merasa tidak punya pacar dan tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun dalam setahun terakhir. Segala sumpah dia ucapkan demi Nya, demi itu-ini, meyakinkan dia sudah tidak sebebas dahulu lagi soal sex seperti dengan pacar-pacar lamanya.
“Ini tes urin positif, dan hasil USG rahim jelas ada kantong janin. Tidak terbantahkan lagi kamu hamil. Sebaiknya kamu
13189129991783534974
edited from google
menikah dengan bapak si bayi. Coba ingat-ingat lagi, siapa yang dekat dengan kamu dua bulan terakhir ini? Bukan pacar, tapi teman mungkin?”Tanyaku.
“Nah, mungkin dok waktu aku cuti liburan bulan lalu sempat seminggu di Jakarta, hampir setiap hari pergi ke diskotik sambil reunian dengan teman-teman kuliah dulu. Memang aku tiap malam diberikan minuman ringan dan pasti ngantuk sesudahnya. Bangun pagi-pagi sudah ada di rumah kontrakan temanku yang cewek.” Si gadis pun bingung.
“Ada teman cowok yang ikut dugem?”Tanyaku.
“Ada tiga yang selalu ikut dok. Teman cewek sih ada tiga sampai lima, berganti-gantian, ada yang selalu dugem tiap hari dan ada yang sesekali ikut.Tapi kami semua teman akrab sejak saya kuliah di Jakarta dok. Sudah seperti saudara sendiri.”Katanya sedih.
1318913844613444662
from google
“Waktu bangun pagi-pagi selesai dugem, terasa ada yang aneh gak di kewanitaan? Atau pakaianmu berantakan?”Anamnesa lebih lanjut.
“Lupa, dok. Benar-benar tidak ingat.”
Lalu kusarankan dia menelepon temannya yang cewek tempat dia menginap di Jakarta dan ke 3 teman cowok yang selalu ikutan dugem.
Kontrol berikutnya pengakuan si gadis membuat terperanga,”Dok, dua teman cowokku minta maaf khilaf dan mengaku memang menaruh obat tidur di minumanku dan meniduri aku sehari berselang bergantian. Si teman cewek tempatku menginap pun minta maaf karena membiarkan mereka bergantian masuk ke kamarku, karena dia ada hutang budi dan uang dengan keduanya.”Katanya menangis.
Hmmmm…Tragis…
Pengobatan penyakit ini sih jelas, tidak perlu obat khusus karena sebenarnya gejalanya wajar pada wanita hamil. Secara hukum, ini kasus termasuk perkosaan karena meniduri wanita yang tidak sadarkan diri. Cuma kendalanya di saksi mata dan bukti-bukti obat tidur, gelas yang dipakai membius sulit ditemukan lagi.
Mungkin setelah si bayi lahir bisa dilakukan tes DNA untuk membuktikan siapa bapaknya, tetapi belum tentu bisa membuktikan adanya unsur pembiusan dan pemerkosaan wanita yang tidak berdaya.
Pertanyaannya, apakah layak kasus ini diungkap on-line?
Kita lihat untung ruginya, kalau menurut saya mengungkap kasus medis yang sarat pembelajaran secara sosial budaya seperti ini boleh di-share pada awam. Karena kasus ini saya alami sendiri dan tidak perlu minta ijin siapapun untuk menuliskannya.  Mungkin jadi masalah kalau saya hanya asisten dan dokter utamanya tidak setuju kasus ini diungkap, maka saya harus membujuk meminta restunya dahulu baru boleh memposting sebuah kasus.Syaratnya, tempat saya memeriksa pasien dan nama pasien tidak disebutkan.
Secara hukum pun ini delik aduan dan si gadis memutuskan tidak akan mengadukan karena memikirkan nama baiknya dan tidak jelasnya siapa diantara ke 2 orang teman itu yang menjadi ayah bayinya.
Ruginya sih, mungkin kalau ada nona-nona di Palembang memiliki gejala maag membandel bisa saja jadi takut berobat dengan saya karena takut diduga ada kantung janin di perutnya.
Setelah konsultasi terakhir dan keputusan saya menolak permintaan dia menggugurkan kandungannya, si gadis tidak pernah kontrol lagi. Mungkin sang bayi digugurkannya di tempat lain atau dilanjutkan, menjadi tanda tanya besar karena memang kehamilan bukan lagi menjadi bidang spesialisasi saya. Mudah-mudahan dia memelihara bayi itu dan tidak membuangnya.
Yang harus dipetik pelajaran dari kasus si gadis adalah, jangan terlalu percaya 100% dengan teman lama yang ajak dugem atau jalan-jalan beramai-ramai terutama bila ada lawan jenisnya. Resiko dibius dan ditiduri saat tidak sadar masih memungkinkan. Tetap hati-hati menerima minuman meskipun dari teman sendiri,dan walaupun ada teman cewek lainnya, belum tentu mereka bisa melindungi kamu saat tidak sadar.
Tetap waspada, tetap sadar di angkot sekalipun. Tidur hanya aman di tempat yang aman bagi anda, di saat sendirian. Kunci kamar tidur.Selagi ada orang lain, tetaplah berhati-hati.
Oke, itu tadi laporan kasus yang mengenaskan dari seorang gadis manis belum menikah yang hamil tanpa merasakan saat-saat dirinya dihamili.
Semoga tetap waspada!




sumber : disini

Read more...

Selasa, 18 Oktober 2011

Siapa Aku Siapa Kamu Siapa Dia

aku mencintaimu aku juga mencintainya
hehehe sungguh naif
tiada maksud untuk melukai siapanun
tapi…
13189156561987509885aku orang yang sok suci
orang yang sok benar dan memang berusaha membenarkan keadaan
aku kira setelah sekian lama berlalu hatiku telah sekokoh monas
tapi saat gelombang datang aku menyadari hatiku hanya sekuat tiang bendera yang ditancapkan di lumpur hanya sabetan angin kecil sudah bergoyang
akh……………………..
hatiku bagai 2 jiwa yang saling bertabrakan
apakah aku dikirim untuknya hanya menambah lukanya
bukankah aku yang memintanya dan menjanjikan sebuah hayalan luar biasa
hehehe ternyata
akulah yang busuk tak pantas untuknya…
aku mencintaimu sayang tapi tahukah kamu diriku sudah kotor sebelumnya
aku mencintaimu sayang tapi tahukah kamu orang yang telah kucermari mengajakku dalam kubang kekotoran kembali
aku mencintaimu sayang tapi tahukah kamu aku malu mendekatimu kamu terlalu jernih untuk ku kotori
aku mencintaimu sayang tapi tahukah kamu aku belum siap untuk menjadi air jernih bersamamu.

Read more...

Senin, 17 Oktober 2011

Aku Memilih Menjadi Petani

131865228838813162
suatu hari seorang sahabat sejak sd bertemu kembali setelah sekian lama mereka berpisah, bedanya kali ini yang satu telah menjadi manager sebuah persahaan besar dan yang satunya menjadi petani. dan timbullah percakapan di tengah tengah sawah.
“kamu bekerja berapa jam sehari?” tanya sang manajer kepada petani.
“saya bekerja 12 jam sehari” jawab petani sambil tersenyum malu karena jam kerjanya panjang tetapi penghasillannya tak sebanding sang manager
“kamu ngak pernah liburan dan jalan jalan ke pulau lain?” tanya manager lagi
“wah mana sempat kalo sawah ku tinggal bisa bisa habis dimakan burung padi padinya” jawab sang petani
“wah rugi sekali kamu kehilangan masa mudamu hanya untuk bekerja dan penghasilan pun tak memadai jika dibandingkan aku yang hanya kerja 5 jam dan penghasilan 2 kali lipatmu ditambah aku telah keliling indonesia” sahut sang manager dengan nada yang sedikit menunjukkan keangkuhan
kemudian manager berkata lagi”menurutku kamu telah kehilangan 60% hidupmu selama ini”
petani pun menjawab ” pernahkah kamu kehilangan harta puluhan juta yang kamu tabung selama bertahun tahun dalam sekejap?”
“tidak pernah” jawab manager
“aku pernah dan rasanya amat sakit” kata petani
“pernahkah kamu berkorban untuk seseorang yang amat kamu cintai hingga kau berusaha membahagiakannya sampai kau tidak mempedulikan cita-citamu dan harapan kedua orang tuamu dan setiap orang mengejekmu di desa, kuliah tinggi tinggi mahal mahal hanya jadi petani juga, namun hubungan kalian akhirnya kandas ditengah jalan?”
“tidak pernah” jawab manager
“aku pernah rasanya pedih, namun yang terpedih adalah kehilangan kekasihku” kata petani lagi
sekarang aku hanya memiliki keluarga, aku hanya ingin menyisakan hidupku disamping mereka, aku pernah kehilangan harta, kekasih sekarang aku hanya ingin menjaga keluargaku itu sudah membuatku terasa bahagia
bekerja 12 jam memang sangat melelahkan tapi tak seperih kehilangan harta
gaji sedikit memang terasa kurang tapi tak sepedih kehilangan kekasih
dan bekerja 12 jam gaji sedikit namun ku bisa setiap waktu menjaga dan membantu orang tua ku yang sangat aku sayangi. aku tak merasa kehilangan walau tak dapat mengetahui wisata seluruh dunia namun aku akan sangat merasa kehilangan jika sesuatu milikku tak lagi ada digenggamanku.
mendengar curhatan petani sang manager sedikit merenung, dan langit terasa gelap pertanda sudah sore, sang petani mengajak pulang sang manager, karena di area persawaan licin manager yang biasa jalan di tempat yang tak berlumpur maka terpelesetlah sang manager dan naas terjebur ke dalam sungai, namun sang petani hanya ketawa melihat sang manager terjatuh
tidak disangka sang manager tak dapat berenang, sang petani pun terkejut saat melihat sang manager meminta tolong dengan sigap petani menjeburkan diri dan menolong manager tersebut.
kemudian petani berkata ” kamu bilang aku hidup seperti ini kehilangan 60% hidupku, tapi tahukah kamu tadi bisa kehilangan 100% hidupmu hanya dalam sekejap”

Read more...

Dosakah Aku Merindukannya


13186695051926262829tak ku kira ini benar benar terjadi, kata kata yang sakral itu terucap lewat sms yang dikirimnya padaku, tak seperti biasa, aku yang berusaha sekuat tenaga menjaga hubungan ini akhirnya tak kuasa untuk menyerah pada keadan, sungguh tragis memang, hubungan yang dibangun bersama yang kelihatan kokoh namun akhirnya tak kuasa menahan badai yang terjadi terus menerus.
bukan karena terjadi peselingkuhan, bukan karena hadirnya orang ketiga, namun hanya karena ego yang tinggi pada diri kita masing masing yang mengkhiri hubungan ini.
seperti layaknya seorang wanita air mata tak dapat ku bendung saat aku meng iyakan kita untuk putus, rasanya dunia berhenti angan harapan cita cita yang dirajut berdua seakan bagai kaca yang di hantam balok kayu pecah berkeping keping.
aku hanya bisa menangis menangis menangis meratapi semua ini, aku melihat masa depanku seakan gelap dan buram entah apa yang akan terjadi nanti aku tanpanya.
seharian aku menangis matakupun terasa kering, namun aku masih bersyukur ada teman teman disampingku yang menyemangatiku, menjelang malam hari dia meminta balikan namun hatiku telah terasa beku pintu hatiku seakan tertutup oleh es yang tak mungkin di buka lagi, aku punya semboyan kalau putus cinta aku apantang untuk balikan karena aku telah sekuat tenaga menjaga hubungan itu, namun semboyan ini malah membuatku terbelenggu dalam kesedihan berkepanjangan
entah kenapa aku rasanya sulit sekali memaafkannya dan menjalin hubungan seperti biasa kembali. padahal ketika aku melakukan setiap kesalahan dia selalu memafkanku dan hubungan kembali normal namun aku tak seperti dia yang dengan mudah memaafkan jika hatiku tersakiti.
hari berganti aku menghubunginya dan menyampaikan syarat jeda beberapa waktu keputusan apa yang akan ku ambil, aku ingin seperti dia jika aku berbuat kesalahan aku selalu patuh atas syarat apa yang dibuatnya untukku dan aku ingin membuktikan padanya bahwa aku wanita kuat yang juga bisa hidup tanpanya.
namun dia bukanlah aku dia tak sabar menunggu jeda waktu yang ku berikan dan seperti biasa ego kita masing masing lah yang menang dan kita menyakiti hati masing masing, menangis menagis lagi aku.
ibuku prihatin mendengarkan kisahku dan dia berusaha mencarikan calon untukku agar aku dapat tersenyum kembali, aku pun meng iyakan saat ibuku telah memilih calon untukku hatiku diliputi amarah dan ingin ada seseorang yang mampu memadamkannya.
namun aku bukanlah orang yang konsisten hatiku berubah ubah bak arah angin, aku tidak tertarik sama calon yang diberikan oleh orang tuaku, namun kini aku menemukan seseorang teman kuliahku yang selalu ada dan selalu menyemangatiku saat aku dalam kesedihan.
akhirnya aku pun jadian dengan teman kuliahku dengan harapan seiringnya waktu aku mampu melupakan mantanku. seminggu sebelum kita pergi kencan yang pertama kali mantanku menghubungiku lewat chat facebook.
sapaannya membuat rasa rindu rasa kangen menjalar keseluruh sendi tubuhku, kenangaan yang kenangan indang terukir dimasa lalu kembali muncul dan lagi lagi air mata tak dapat ku tahan padahal ini dalam ruangan kuliah namun aku malah menangis..
aku diliputi kebingungan di satu sisi aku merindukannya amat merindukannya disisi lain aku telah mendapatkan penggantinya dan seminggu lagi kita akan kencan, aku tahu dia juga telah mendapatkan pacar baru, namun di chat itu dia mengatakan telah putus dengan pasangan barunya sementara hatiku terasa sudah tak bisa dibelokkan lagi.
entah kenapa hatiku masih saja memendam amarah kepadanya padahal telah beberapa bulan berlalu, masih saja terlihat jelas kesalahannya padaku, bahkan hatiku ingin membuktikan bahwa dia salah besar telah memutuskan aku.
sebelum aku mengakhiri chat di facebook dengannya aku memberitahukannya bahwa aku telah di jodohkan dengan kata-kata ini aku berharap dia bisa bahagia dan menemukan orang lain yang lebih baik dan bisa membuatnya bahagia namun sebenarnya aku berencana menikah dengan teman kuliahku satu bulan lagi kita akan menghadapi ujian kompre dan setelah lulus kita berencana langsung menikah terus terang aku sudah tak kuat memendam derita ini.
aku tidak berkata sebenarnya pada mantanku, aku takut dia akan membenciku jika tahu sebenarnya karena kita berdua memiliki janji akan menikah dan membangun rumah tangga namun kini aku akan menikah dengan orang lain.
kencan pertama terjadi namun tak sesuai dengan dugaanku aku masih belum bisa melupakannya, wajahnya seakan menhantuiku aku disini dengan pacarku akan tetapi hatiku masih bersama mantanku
hari berganti hari hatiku masih sama, setiap hari aku bukannya melihat profil pacarku akan tetapi melihat profil facebook mantanku, aku ingin tahu dengan siapa dia dekat, dengan siapa dia menjalin hubungan, kadang kala saat statusnya penuh dengan coment coment wanita hatiku tak mampu membendung rasa cemburu yang menyesakkan dada, aku masih beranggapan dia milikku aku tak rela orang lain mendekatinya, kalo sudah begitu aku selalu uring uringan, ingin ku menyapa mantanku dan mengunggkapkan rindu namun aku takut dia akan semakin jauh dariku.
pernah rasa rindu ini tak terbendung dan aku menghubunginya namun jawabannya dingin, dan hanya tangisan tangisan lagi yang ku alami, seharusnya aku bersyukur telah memperoleh pengganti dirinya tapi entah kenapa bayang bayang mantanku selalu muncul seakan aku tak mampu melupakannya.
sebenarnya satu permintaanku aku ingin bertemu dengannya dan melihat wajahnya, berkali kali aku meminta pertemuan dengannya namun akhirnya dia menyetujuinya. namun seperti biasa aku mengingkari janjiku bulan yang ku janjikan telah lewat aku sibuk sendiri dengan masalah yang ku buat rumit sendiri,
sampai akhirnya hari itu terjadi hari dimana aku harus memilih, kini aku telah bekerja diluar kota dan mantanku memintaku pulang dan dia berjanji akan langsung melamarku, dalam hubungan kami dulu akulah yang selalu meminta untuk segera menikah, namun mantanku selalu bilang, belum cukup modalnya.
aku bingung, aku benar benar pusing, di satu sisi aku sangat amat mencintai mantanku disisi lain pacarku telah mengabarkan keinginan menikahnya denganku ke kedua orang tuanya, kedua orang tuaku juga merestuinya dan tuntutan kedua orang tuaku adalah memiliki menantu yang masa depannya jelas. aku hanya bisa menangis lagi oh tuhan apa yang harus aku lakukan
jika aku memilih mantanku apakah sikap tempramentalnya akan berubah, sikap yang selalu membuat hatiku sakit, dan apakah aku tahan di tuduh orang jahat yang meninggalkan pacarku begitu saja, bagaimana aku menyampaikan pada orang tuaku juga, sungguh pilihan yang sulit, dan aku tak tega untuk memutuskan pacarku yang baik hati yang selalu menyemangatiku. dan atas pertanyaannya aku memilih tidak menjawabnya dan hanya tangisan ku lakukan bahkan menganggkat telpnya dan berbicara dengannya saja aku tak sanggup.
mantanku memang sifatnya keras tidak mau ya sudah namun bukan itu jawaban yang aku inginkan, aku ingin dia mengerti bahwa aku ingin hidup dengannya, tapi kondisiku sangat sulit aku berharap dia mengerti.
pilihan telah ku ambil, namun aku masih saja belum bisa melupakan sang mantan, entah apa yang ada di pikiranku berbagai cara untuk melupakan selalu gagal,
sebulan berlalu dan aku tak bisa menghubunginya, selama berpisah 6 bulan akulah yang paling sering menghubunginya
tiba tiba hpku berbunyi dan kulihat sms darinya hatiku senang sekali, segera ku buka smsnya namun seakan aku tidak bisa bergerak melihat smsnya, dia telah mengetahui semuanya, kali ini gaya smsnya lebih santai tidak seperti yang dahulu dahulu penuh emosi, hatiku terperanjak setelah dia berkata,
“kapan kamu menikah dengan teman sekantormu :)? aku sudah tahu semuanya tentang rencana kalian, hehhee kalo aku tahu dari dulu aku tak akan memintamu terus kembali, yach aku pikir aku dapat menentukan kebahagiaan seseorang hahhaha naif banget aku. ternyata aku bukanlah siapa siapa aku hanya makhluk biasa, dan kebahagiaan seseorang bukan aku yang menentukan, ada atau tanpa adanya aku tuhanlah yang berhak menentukan segalanya, aku hanya berdoa semoga kamu bahagia disana aku merestui rencana kalian” itulah sms yang dikirimkannya
jantungku seakan berhenti berdetak, aku tak dapat berkata apapun, bagaimana dia tahu semuanya? tanpa aku tanya bagaimana dia mengetahui segalanya ternyata dia sendiri berkata kalau telah membayar beberapa hacker untuk membobol acout-acoutku serta acout-acout teman teman kantorku, jaman sekarang siapa sih yang ngak kenal dunia maya, dan tentu saja kita akan berbagi rahasia lewat dunia maya.
tiga bulan berlalu bayang bayang mantanku masih saja menghantuiku, dia sering menyindirku lewt tulisan tulisan di blognya aku selalu antusias membaca tulisan tulisannya, pernah aku disindir seperti anak perempuan dan sepiring nasi goreng. yaitu berkisah tentang anak perempuan yang pergi dari rumah karena bertengkar dengan ibunya dan ibunya mengusir anak perempuan tersebut, ditengah jalan anak perempuan tersebut kelaparan dan ada abang tukang nasi goreng dan memberinya nasi goreng gratis, setelah selesai menyantap anak perempuan itu menangis dan penjual nasi goreng bertanya kenapa neng?”
“ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku mengusirku, dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi kerumah”
““Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu sepiring nasi goreng dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
hatiku sangat perih setiap kali dia menyindirku, walau memang tak ditujukkan secara langsung tapi melalui tulisan tulisannya ku melihat setiap kekecewaan pada dirinya anak perempuan diatas memang seperti aku, saat aku putus dengannya aku tak memikirkan kasih sayangnya dan akhirnya ada seseorang yang prihatin padaku aku sangat terharu padahal aku dan mantanku telah lalui banyak cobaan dan saling mengisi dikala aku dirundung masalah selalu ada dia untuk membantu dikala dia diterpa musibah aku juga mengisinya dengan menghiburnya tapi itu semua terasa sirna dan seseorang yang mengisi hari hari dan menyemangati kesedihanku yang membuatku melupakan mantanku namun aku tetap belum bisa mencintai pacarku sekarang ini.
menjelang ulang tahunku aku berusaha menghubunginya dan berharap dia tak melupakan aku, aku berharap dia akan memberikan surprise padaku, hehehe aku memang gila, aku sudah punya pacar yang baik tapi masih mengharapkan mantanku.
kali ini komunikasinya santai, tidak ada emosi sedikitpun, namun aku semakin takut, aku semakin takut jika dia melupakan aku, dia berkata ” cintaku padamu sudah mulai kandas, sekarang cintaku sampai titik dimana awal kita bertemu tidak sampai titik dimana kita bertemu dan aku mengantarmu sampai kerumah, dan seiringnya waktu aku sudah tak peduli lagi padamu” akh … aku hanya menangis lagi melihat tulisannya
hari ini adalah hari ulang tahunku setelah ku tunggu seharian tak ada ucapan bahkan lewat sms darinya, aku haya mencoba memaklumi karena 2 kali aku melupakan ulang tahunnya selama kami pacaran aku selalu melupakan hari ulang tahunnya, dia tak pernah mempermasalahkan itu namun aku selalu bersalah.
aku berpikir dia masih marah padaku bukan lupa, karena nomor hpku serta password pinatmku pun dia ingat. aku hanya berpikir dia telah melupakanku dan kini aku akan mencoba menjalin hubungan dengan pacarku tanpa memikirkan dia
hari berganti hari bulan berganti bulan, namun hatiku terasa hambar tak ada yang spesial, aku telah memiliki uang lebih banyak bisa pergi kemana saja aku juga telah memiliki banyak teman namun hatiku tetap tak bergairah seakan kesenangan hanya sesaat tak bisa dibawa pulang dan dikenang,
bulan berganti bulan sekarang pacarku telah sedikit menampakkan sikap aslinya, dulu yang selalu mematuhi perintahku tak pernah marah padaku kini seakan aku takut padanya ketika dia marah dan menyalahkan aku, dan saat itulah aku selalu teringat mantanku, saat aku dan pacarku diam diaman sekuat tenaga aku mencari informasi tentang mantanku aku ingin menemuinya aku ingin memeluknya aku ingin ingin ingin tak melepaskannya kembali seperti laila majnun, aku sangat ingin bertemu dengan mantanku
saat ku lihat profil facebook mantanku, kali ini aku bisa melihat dindingnya, mantanku telah memutus tali pertemanan di facebook, saat aku melihat profilnya dadaku terasa sesak kini dia telah menjalin hubungan dengan seoran wanita.
aku pun kembali hubunginya, aku ingin dia tak melupakan setiap kenangan yang terjadi antara aku dan dia, sebenarnya aku egois aku sudah memiliki pacar kenapa masih belum puas dan tak rela mantanku berhubungan dengan orang lain, bukankah dia seharusnya layak mendapatkan kebahagiaan juga, tapi entah pikiranku tak bisa bersikap logis.
aku pun nekat menghubunginya padahal dia kerap kali melarangku, namun sudah tak ada logika di pikiranku, namun kali ini aku mendapat lampu hijau darinya kita bercanda tertawa dan menangis bersama, namun ini air mata bahagia bukan air mata kesediah, aku baru kali ini merasakan airmata bahagia, dan aku pun tertidur dengan senyuman sungguh indah walau berhubungan lewat sms.
namun beberapa hari kemudian seakan dia tersadar dan kembali melarangku menghubunginya atau dia mengancam mengganti nomer lagi, aku hanya bisa pasrah dan rasanya sudah putus asa, kini aku hanya berdoa semoga kalian bahagia aku akan memendam cintaku, aku berharap pintu hatiku akan terbuka untuk pacarku.
dalam kisah ini aku dan mantanku tak pernah menyalahkan satu sama lain, kita berdua sama sama berkorban besar atas jalinan cinta kami dulu, namun memang kehendak Tuhanlah cinta kami kandas, kami tak menyesali pertemuan kami.
namun kini aku kangen saat dia ngomel ketika aku pergi shoping, menyuruhku untuk hemat dan menabung, menyuruhku untuk mensyukuri yang aku punya, menyuruhku untuk sholat, menyuruhku untuk yang lain lain.
semoga tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita semua

Read more...

Minggu, 02 Oktober 2011

Cinta Lelaki Biasa


by Asma Nadia dari kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji



Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Read more...

BUMI MALANG MIG33 COMUNITY

Pengikut

About This Blog

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP